15 Agu 2011

Dari Polres Hingga Samsat

8 agustus 2011,
Dalam perjalanan ke Sambas aku bertemu temanku di penyeberangan Sekura-Tanjung Ketat,
“mau kemana?” tanyaku.
“aku mau buat SIM (Surat Izin Mengemudi)” jawabnya singkat.
“Lo, emang kamu belum punya SIM?”
“aku udah lima kali tes untuk buat sim tapi tak ada satupun yang lolos, aku heran kenapa bisa begitu, padahal semua udah dijalakan, tapi masih saja sim ku gagal”. Sambil buka helm putih yang membungkus kepala dia menghembuskan nafas panjang.
“dan yang lebih parahnya lagi aku udah beberapa kali ditilang Satlantas” lanjutnya.
Aneh memang, di negeriku ini rakyat kecil memang sudah biasa di perlakukan tidak adil, buat SIM sampai lima kali tak ada satupun yang lolos, tapi giliran razia selalu saja ditilang, maunya Polisi apa? Apa harus ada praktek uang saat buat SIM?.
Yang lebih membuatku gak habis fikir, kemarin kebetulan aku ketemu salah satu teman yang kebetulan abangnya Seorang Polisi, hanya 1 x tes, SIM pun bisa lansung di terima tanpa menunggu waktu lama, Satu Kejanggalan Bukan?

Dihari yang sama,
Aku mampir ke Samsat untuk ngambil STNK dan PLAT nomor kendaraan sepeda motorku yang dijanjikan akan keluar hari itu, ternyata janjinya dikalikan nol. Yang lebih membuatku heran, malah ada pemilik sepeda motor yang udah 5 bulan PLAT motornya gak selesai samasekali, pihak Samsat menjanjikan dalam waktu 2 minggu semuanya udah bisa di ambil tapi sampai 5 bulan semuanya “OMONG KOSONG”.

Ku hampiri dia,
“emang benar pak udah 5 bulan gak jadi?” tanyaku pelan.
“Iya bang malahan aku udah sering di tilang karena PLAT motorku itu gak ada” Astarfirulahhaladzim, yang lebih parahnya lagi, pihak Samsat menyarankan untuk buat PLAT baru di Pontianak, padahal uang sudah diberikan ke Samsat di Sambas, jadi uang yang diberikan dikemanakan? Setahuku pembuatan PLAT itu tidak lebih dari 5 menit, masa dalam waktu 5 bulan gak jadi, ANEH!!!.

Satlantas merazia pengendara yang tidak punya PLAT nomer kendaraan, sedangkan PLAT nomor kendaraan tersebut sama selkali tidak di kerjakan pihak Samsat, sebuah kerjasama yang apik antara kedua belah pihak untuk mendapat keuntungan. Menurutku ini sebuah “JEBAKAN” untuk rakyat kecil.
Inilah sepenggal potret ketidak jujuran di Negeriku, INDONESIA.

“Sampai kapan rakyat kecil di perlakukan seperti ini?.keluhku dalam hati.

Percuma saja semboyan yang terpampang di pagar yang bertuliskan, KITA BANGUN KARAKTER ANGGOTA SEBAGAI PELINDUNG, PENGAYOM DAN PELAYAN MASYARAKAT, semua itu hanya menyadi pemanis halaman kantor belaka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar